Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang merasa bingung ketika ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagian terlalu keras terhadap dirinya sendiri hingga kelelahan, sementara sebagian lainnya merasa bebas melakukan apa saja selama tidak mengganggu orang lain.
Padahal, Islam memberikan panduan yang sangat seimbang. Ada batas minimal yang harus dijaga, ada batas maksimal yang tidak boleh dilanggar, dan di antara keduanya terdapat ruang kelapangan yang luas bagi manusia untuk menjalani hidup sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Hidup Tidak Tanpa Batas
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah telah menetapkan kewajiban-kewajiban yang tidak boleh disia-siakan, menetapkan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar, serta mengharamkan beberapa perkara yang tidak boleh dikerjakan. Di sisi lain, ada banyak perkara yang dibiarkan sebagai bentuk rahmat dan kemudahan bagi manusia.
Dari sini para ulama menjelaskan bahwa kehidupan seorang muslim berada di antara dua batas:
- Batas minimal: melaksanakan kewajiban.
- Batas maksimal: menjauhi keharaman.
Selama seseorang berada di antara dua batas tersebut, maka ia masih berada dalam ruang yang lapang.
Tiga Hak yang Harus Dijaga
Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki tiga jenis tanggung jawab besar:
- Hak Allah
- Hak sesama makhluk
- Hak diri sendiri
Ketiganya harus dijaga secara seimbang.
1. Hak Allah
Contoh kewajiban dalam hak Allah adalah salat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, dan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sebaliknya, syirik, sihir, zina, dan berbagai dosa besar termasuk ke dalam wilayah yang haram.
Jika seseorang mampu melakukan ibadah sunnah seperti salat malam atau salat dhuha, maka itu adalah keutamaan. Namun ketika ia meninggalkan kewajiban atau terjatuh pada keharaman, barulah ia keluar dari batas yang telah ditetapkan.
2. Hak Sesama Manusia
Dalam keluarga misalnya, seseorang wajib memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuannya. Namun memberikan fasilitas tambahan di luar kebutuhan pokok termasuk wilayah kelapangan dan kebaikan yang tidak wajib.
Sebaliknya, mengambil hak orang lain, merampas harta, menyakiti fisik, atau merendahkan kehormatan seseorang termasuk bentuk kezaliman yang dilarang.
3. Hak Diri Sendiri
Tubuh juga memiliki hak yang harus ditunaikan. Manusia membutuhkan makan, tidur, istirahat, kebersihan, dan perawatan diri. Seseorang tidak boleh menzalimi dirinya dengan cara yang merusak fisik maupun agamanya.
Karena itu, semangat beribadah tidak boleh sampai membuat seseorang melupakan kebutuhan dasar tubuhnya. Keseimbangan tetap harus dijaga.
Ketika Kewajiban Bertabrakan dengan Keinginan Baik
Salah satu contoh yang sering terjadi adalah seseorang ingin berkurban, tetapi masih memiliki utang yang sudah jatuh tempo.
Dalam kondisi seperti ini, membayar utang lebih didahulukan karena termasuk kewajiban, bahkan menunda pembayaran utang padahal mampu termasuk bentuk kezaliman. Sementara kurban, menurut mayoritas ulama, bukan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu.
Pelajaran pentingnya adalah:
Dalam Islam, kewajiban harus didahulukan sebelum amalan sunnah.
Kadang-kadang seseorang sangat bersemangat melakukan amalan tambahan, tetapi justru melalaikan kewajiban yang lebih besar. Padahal Allah lebih mencintai hamba yang menunaikan kewajiban terlebih dahulu.
Indahnya Memberi Kelonggaran kepada Orang yang Berutang
Islam tidak hanya mengatur pihak yang berutang, tetapi juga mengatur pihak yang memberi utang.
Jika seseorang benar-benar sedang kesulitan dan tidak mampu membayar, maka pemberi utang dianjurkan bahkan menurut sebagian ulama diwajibkan memberikan tenggang waktu sampai ia mampu melunasi. Lebih dari itu, mengurangi sebagian utang atau bahkan membebaskannya termasuk sedekah yang sangat besar pahalanya di sisi Allah.
Ketika seseorang mengikhlaskan sebagian haknya demi membantu orang lain, hakikatnya ia sedang bertransaksi dengan Allah, bukan dengan manusia.
Mengapa Allah Memberi Batasan?
Agar lebih mudah dipahami, bayangkan seseorang membuat minuman.
Jika gulanya terlalu sedikit, rasanya tidak enak. Jika terlalu banyak, juga tidak enak. Karena itu pembuat minuman menentukan takaran yang tepat. Ia tahu batas minimal dan maksimal yang menghasilkan rasa terbaik.
Begitu pula kehidupan manusia.
Allah adalah Pencipta manusia. Dialah yang paling mengetahui apa yang baik dan buruk bagi makhluk-Nya. Karena itu, Allah menetapkan batasan-batasan syariat agar kehidupan manusia berjalan dengan baik dan seimbang.
Peran Niat dalam Kehidupan Seorang Muslim
Salah satu pembahasan menarik dalam kajian ini adalah tentang niat dan kehendak manusia.
Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berada dalam ketentuan Allah. Namun Allah tetap memberikan manusia kehendak dan pilihan. Kehendak inilah yang akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.
Karena itu, Islam sangat menghargai niat yang baik.
Ketika Niat Baik Sudah Bernilai Pahala
Seseorang bisa memperoleh pahala meskipun belum berhasil melakukan amal yang diinginkannya.
Contohnya:
- Sudah bertekad kuat untuk berhaji.
- Sudah menabung dan mempersiapkan diri.
- Namun meninggal sebelum berangkat.
Dalam kondisi seperti ini, Allah tetap memberikan pahala sesuai niat dan kesungguhannya.
Begitu pula seseorang yang ingin melakukan suatu amalan baik, tetapi harus mendahulukkan kewajiban lain yang lebih penting. Ia tetap mendapatkan pahala dari niat baik tersebut.
Menjaga Hati agar Selalu Menginginkan Kebaikan
Dari pembahasan niat, ada satu pelajaran yang sangat menenangkan.
Tidak semua keinginan baik yang kita miliki akan langsung terwujud. Terkadang kita sudah berusaha, tetapi hasilnya belum datang. Terkadang pintu yang kita inginkan belum dibukakan oleh Allah.
Namun tugas seorang hamba bukanlah memastikan hasil.
Tugasnya adalah menjaga niat, tekad, dan keinginan untuk terus berada di jalan kebaikan.
Karena bisa jadi Allah sedang menyiapkan waktu yang lebih tepat. Bisa jadi Allah mengetahui bahwa jika keinginan itu dikabulkan sekarang, justru akan membawa mudarat bagi dirinya. Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Penutup
Islam bukan agama yang hanya berbicara tentang larangan dan hukuman. Islam juga memberikan ruang yang luas bagi manusia untuk tumbuh, belajar, dan beramal sesuai kemampuan.
Selama seseorang menjaga kewajiban, menjauhi keharaman, memenuhi hak Allah, hak sesama manusia, dan hak dirinya sendiri, maka ia berada dalam jalan yang aman.
Di saat yang sama, ia perlu menjaga satu hal yang paling berharga: niat yang baik dan tekad untuk selalu mendekat kepada Allah. Karena terkadang yang paling bernilai di sisi Allah bukan hanya apa yang berhasil kita lakukan, tetapi juga kebaikan yang sungguh-sungguh kita inginkan.